Menelusuri Jejak Orang Sasak Purba
Ahem, tulisan ini bukanlah karya saia, tapi ditulis oleh saudara Mahbub Karumbu. Saia sudah meminta izin kepada beliau untuk menaruh tulisan beliau ini di weblog saia ini, dan beliau sudah memberikan saia lisensi untuk itu. Ada tiga bahgian dari tulisan ini, bahgian pertama di mari, kedua di mari dan bahgian ketiga di mari. Yang saia ambil hanyalah bahgian kedua dan ketiga sahaja. Nah, agar tulisan ini lebih keren dan mantaf, maka terdapat beberapa hal yang saia perbaiki dan tambah, iaitu diagram, pendahuluan, pembahasan, kesimpulan serta beberapa referensi pula. Oh iya, artikel ini sudah dimuat pula di SO, tepatnya di mari.
Ok, ini dia tulisannya. Let’s cekidoooottt…
PENDAHULUAN
Berdasarkan latar belakang sejarah, suku bangsa Sasak yang ada sekarang merupakan hasil perkembangan dari berbagai suku bangsa pendatang, baik dari luar negeri maupun dari Nusantara sendiri. Seperti halnya dengan suku bangsa asli lainnya di Nusantara, Sasak pada mulanya didiami oleh ras Negroid (Weddoid), kemudian datang ras Melayu Tua dan ras Melayu Muda dari daratan Asia. Migrasi ke Gumi Sasak (Pulau Lombok) terus berlanjut sampai sekarang, terutama dari Nusantara sendiri. Kenyataannya, sekarang ini Gumi Sasak dihuni oleh berbagai suku bangsa. Dari sejarah diketahui bahwa Gumi Sasak sejak dulu dihuni berbagai suku bangsa yang hidup dengan saling pengertian dan saling membutuhkan. Keadaan tersebut merupakan potensi yang baik ke arah persatuan bangsa Indonesia, ciiiieee…
PEMBAHASAN
Well, asal-usul orang Sasak tidak mungkin diketahui dari sumber-sumber tulisan dari masa purba itu atau dengan mempercayai sumber-sumber lisan. Petunjuk yang paling meyakinkan tentang leluhur orang Sasak adalah melalui bahasa yang digunakan dan benda-benda hasil kebudayaan mereka.
Kita percaya bahwa bahasa Sasak yang digunakan penduduk asli Pulau Lombok saat ini tidak serta merta tercipta. Demikian pula dengan penemuan-penemuan arkeologi warisan kebudayaan Neolitikum (Zaman Batu Muda) berupa kapak lonjong dan kapak persegi di berbagai belahan Nusantara belakangan ini. Semuanya itu tidak mungkin tersebar dengan sendirinya, melainkan pasti memiliki rentetan kronologi yang bisa dirunut. Atau, dengan kata lain, mustilah ada kelompok manusia pendukungnya yang berperan aktif dalam persebaran bahasa dan artefak tersebut melalui aktivitas migrasi (perpindahan) mereka.
Diagram: Alur Penyebaran Kebudayaan Neolitikum di Indonesia.{{01}}
Para ahli linguistik menyimpulkan bahwa kronologi dari persebaran suatu keluarga (filum) bahasa dapat ditelusuri dari area dengan keberagaman bahasa yang besar ke area dengan keberagaman bahasa yang kecil. Bahasa Sasak memiliki kesamaan dengan bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia seperti Bali, Sunda, Jawa, Batak, Banjar, Minangkabau, dan Bugis.
Tidak hanya itu, bahasa Sasak mirip pula dengan bahasa Tagalog (Filipina), Tetum (Timor Leste), Maori (Selandia Baru), Fiji (Republik Fiji), Samoa (Samoa Barat dan Samoa Amerika), Tahiti (Perancis), Chamorro (Guam dan Mariana Utara), dan Hawai (negara bagian Amerika Serikat). Penyelidikan linguistik dan riset terbaru DNA (Deoxyribonucleic Acid) tentang asal-usul manusia Asia menyimpulkan bahwa bahasa-bahasa tersebut merupakan rumpun bahasa Austronesia yang notabene mendiami Asia Tenggara sekitar 60 ribu tahun lalu yang nenek moyangnya keluar secara langsung dari Afrika (Out of Africa) sekitar 100 ribu tahun lalu. Artinya, bukan dari Yunan (Cina Selatan) seperti asumsi selama ini.
Sebelum pembahasan lebih jauh lagi, ada baiknya dikemukakan bahwa banyak sejarawan dan periset yang meyakini Teori Yunan tersebut sebagai teori yang keliru dan sudah usang alias kadaluarsa. Salah seorang di antara sejarawan lokal (pakar di bidang arkeologi) yang menyatakan demikian adalah Prof. Dr. Sangkot Marzuki.
Lengkapnya dia berargumen :
“Teori Yunan” tersebut muncul sejak zaman Belanda, yang pada waktu itu belum ada ilmu genetik maupun linguistik yang tajam. Teori itu dibuat dengan melihat manusia Indonesia secara fisik, dan disimpulkan berasal dari Hindia Belakang atau kira-kira daerah Burma, karena ada kedekatan ciri fisik”.
Teori itu, beberapa kali diperbarui, di antaranya dengan teori dari ilmuwan Taiwan yang menyatakan manusia Austronesia berasal dari daerah di Taiwan. Teori itu didasarkan kepada adanya kemiripan linguistik atau bahasa.
Dengan menggunakan pendekatan ilmu linguistik dan riset genetika, maka asal-usul bangsa Indonesia bisa dipastikan bukan berasal dari Yunan, akan tetapi berasal dari bangsa Austronesia yang mendiami kepulauan Formosa (Taiwan).
Intinya adalah Prof. Dr. Sangkot Marzuki menyatakan bahwa ras Austronesia itu berasal dari Formosa, Taiwan (Out of Taiwan). Kesimpulan ini berbeda dengan Teori Yunan yang menyatakan ras Austronesia berasal dari Yunan, Cina.
Pada kesempatan lain, Prof. Dr. Sangkot Marzuki berargumen :
Sekalipun belum ditemukan bukti-bukti genetika secara meyakinkan, suku bangsa Austronesia yang menempati gugus kepulauan Formosa (Taiwan) diduga kuat bermigrasi dari wilayah Utara (Cina / baca: Yunan :D). Rumpun bahasa Austronesia dan keluarga bahasa lainnya di Asia Tenggara merupakan filum Bahasa Austrik. Dilihat dari kekerabatan linguistik (hipotesis filum Austrik), semua bahasa di wilayah Tiongkok bagian Selatan memiliki kedekatan (kekerabatan) dengan rumpun Bahasa Austrik.
Lebih lanjut, Prof. Dr. Sangkot Marzuki memberikan statemen :
Penelitian itu antara lain terungkap pola migrasi “nenek moyang” bangsa Asia. Studi itu menunjukkan, pada masa lalu terdapat satu jalur utama migrasi manusia ke Asia, yakni melalui Asia Tenggara. Ia melanjutkan, setelah keluar dari Afrika 150.000-200.000 tahun lalu, mereka singgah di Asia Tenggara sekitar 60.000 tahun lalu, kemudian menyebar ke berbagai kawasan di Asia. Asia Tenggara merupakan lokasi bersama nenek moyang bangsa Asia. Itu menunjukkan, Asia Tenggara sumber geografis utama dari populasi Asia Timur dan Asia Utara.
Sumber: Afrika Asal Suku Bangsa Asia.
Lantas, secara hasil riset terbaru Prof. Dr. Sangkot Marzuki berkata :
Hasil riset terbaru DNA (deoxyribonucleic acid) tentang asal-usul manusia Asia menyimpulkan bahwa Asia Tenggara merupakan sumber geografis utama dari populasi di Asia yang kemudian menyebar ke utara. Nenek-moyang bangsa-bangsa Asia yang keluar dari Afrika sekitar 100 ribu tahun lalu itu menyusuri sepanjang pesisir selatan ke arah timur dan lebih dulu berpusat di Asia Tenggara sekitar 60 ribu tahun lalu, baru kemudian menyebar ke berbagai kawasan di utaranya di Asia.
Kesimpulan terbaru ini sekaligus membantah teori sebelumnya yang menyebut bahwa ada jalur majemuk migrasi nenek moyang bangsa Asia, yakni melalui jalur utara dan jalur selatan, dan membantah bahwa bangsa Asia Tenggara (yang berbahasa Austronesia) berasal dari Taiwan (Out of Taiwan).
Sayangnya, di akhir statemennya pada sumber di atas, Prof. Dr. Sangkot Marzuki berasumsi :
Bisa saja pusatnya sebenarnya ada di Sundaland (di laut China Selatan -red) yang sudah tenggelam pada sekitar 12.000 hingga 8.000 tahun lalu.
Masih tentang Sundaland, pada sumber yang lain, Prof. Dr. Sangkot Marzuki dengan penuh percaya diri menambahkan :
![]()
Manusia Austronesia berasal dari daratan Sundaland. Hipotesa itu muncul dari adanya bukti arkeologi, seperti hasil fosil yang ditelusur dengan DNA.
Sumber: Afrika Asal Suku Bangsa Asia.
Anda tahu sendiri bahwa teori Sundaland (Benua Atlantis) itu sangat memicu kontroversi, dan masih diperdebatkan hingga detik ini. Kenapa? kerana peradaban Atlantis itu hampir tidak meninggalkan jejak arkeologi sama sekali, wow
. Salah seorang geolog UGM, Pak Roviky, sudah pernah menulis artikel untuk membantah teori Sundaland tersebut dalam artikel beliau yang berjudul, Benarkah Indonesia itu Atlantis?.
Jadi, di mari tidak digunakan teori Out of Yunan, karena sudah terbantahkan. Artinya, basis teori yang kita gunakan dalam tulisan ini mengacu pada hasil riset terbaru tersebut di atas
.
Diagram: Out of Africa (Migrasi Manusia Purba).{{02}}
Kesimpulan tersebut setali tiga uang dengan hasil penelitian arkeologi. Persebaran kapak lonjong, kapak batu, dan kapak persegi di Nusantara menunjukkan adanya migrasi bangsa Africa ke Asia Tenggara, lalu ke kepulauan Nusantara.{{03}}
Bangsa yang berasal dari Africa yang mendiami Asia tenggara tersebut berimigrasi ke kepulauan Nusantara dalam dua gelombang utama, yaitu:
- Kelompok yang pertama kali bermigrasi ke Nusantara disebut Bangsa Malanesia atau Papua Melanosoid yang merupakan ras Negroid. Mereka bermigrasi pada Zaman Es (Pleistocene) antara 1,6 juta – 100 ribu tahun yang lalu. Bangsa Melanesia ini memunyai ciri-ciri kulit kehitam-hitaman, badan kekar, rambut keriting, mulut lebar, dan hidung mancung. Bangsa ini sampai sekarang masih terdapat sisa-sisa keturunannya, seperti Suku Sakai (Siak) di Riau, dan suku-suku bangsa Papua Melanosoide yang mendiami Pulau Irian dan pulau-pulau Melanesia.{{04}}
Ketika bangsa Malanesia tersebut bermigrasi, secara geologis pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa masih menyatu dengan Benua Asia (interglasial-Pleistocene). Sedangkan pulau Maluku dan Papua masih menyatu dengan Australia, sementara Sulawesi dan kepulauan Nusa Tenggara masih sebagai pulau-pulau tersendiri. {{05}}
- Gelombang kedua adalah Bangsa Melayu yang merupakan rumpun bangsa Austronesia yang termasuk golongan Ras Melanosoid (Malayan Mongoloid). Bangsa Melayu ini melakukan migrasi ke Nusantara dalam dua kelompok yang disebut Proto Melayu (Melayu Tua) dan Deutro Melayu (Melayu Muda).{{06}}
- Proto Melayu (Melayu Tua): Masa migrasi kelompok ini diperkirakan berlangsung selama satu milenium (seribu tahun) antara tahun 3000-1500 SM, menyebar dari daratan Asia ke Semenanjung Melayu, Nusantara, Philipina dan Formosa serta Kepulauan Pasifik sampai Madagaskar. Bangsa ini masuk ke Nusantara melalui dua jalur, yaitu Barat dan Timur, dan membawa kebudayaan Neolitikum (Batu Muda).{{07}}
Bangsa Proto Melayu yang merupakan ras Malayan Mongoloid ini memiliki ciri-ciri antara lain: Kulit sawo matang, rambut lurus, badan tinggi ramping, bentuk mulut dan hidung sedang. Yang termasuk keturunan bangsa ini adalah:{{08}}
- Suku Toraja (Sulawesi Selatan)
- Suku Sasak (Pulau Lombok)
- Suku Dayak (Kalimantan Tengah)
- Suku Nias (Pantai Barat Sumatera)
- Suku Batak (Sumatera Utara)
- Suku Kubu (Sumatera Selatan)
- Deutro Melayu (Melayu Muda): Dapat diperkirakan bahwa penduduk Yunnan pada masa itu mengadakan perpindahan untuk mencari tempat yang dianggap paling dapat memberikan peluang kebebasan bergerak untuk mencari makanan, khususnya berladang dan berburu. Perpindahan mereka itu diperkirakan terjadi pada zaman logam (zaman perunggu), yang mana mulai dikenal dan berlangsung di Indonesia sekitar 1000-100 SM. Sama seperti Proto Melayu, migrasi kelompok ini juga dari daratan Asia ke pulau-pulau Nusantara, yang kemudian mendiami daerah pesisir pantai.{{09}}
Karena kelompok Deutro Melayu juga merupakan Ras Melanosoid (Malayan Mongoloid), maka mereka juga memiliki ciri-ciri yang hampir sama dengan Proto Melayu. Hanya saja, jika diamati dari keterangan di atas, maka perbedaan antara kelompok Deutro Melayu dengan Proto Melayu dapat dilihat berdasarkan wilayah yang di diaminya, yakni daerah pedalaman dihuni oleh kelompok Proto Melayu dan daerah pesisir pantai didiami oleh para imigran Deutro Melayu.
Kelompok Melayu Muda ini berkembang menjadi:{{10}}
- Suku Aceh
- Suku Minang
- Suku Sunda
- Suku Jawa
- Suku Bali
- Suku Bugis
- Suku Makasar
- Suku Manado
- Suku Madura
- Suku Ambon
- …dan lain sebagainya
- Proto Melayu (Melayu Tua): Masa migrasi kelompok ini diperkirakan berlangsung selama satu milenium (seribu tahun) antara tahun 3000-1500 SM, menyebar dari daratan Asia ke Semenanjung Melayu, Nusantara, Philipina dan Formosa serta Kepulauan Pasifik sampai Madagaskar. Bangsa ini masuk ke Nusantara melalui dua jalur, yaitu Barat dan Timur, dan membawa kebudayaan Neolitikum (Batu Muda).{{07}}
Teori migrasi bangsa-bangsa tersebut sekaligus menjelaskan mengapa bahasa Sasak memiliki begitu banyak varian, baik dalam bahasa maupun karakteristik budayanya. Pun menjelaskan tentang suku-suku lain di Indonesia yang serumpun dengan Suku Sasak, seperti Suku Toraja (Sulawesi Selatan), Suku Dayak (Kalimantan Tengah), Suku Nias (Pantai barat Sumatera), Suku Batak (Sumatera Utara), dan Suku Kubu (Sumatera Selatan), yang mana semua suku-suku itu termasuk ke dalam kelompok Proto Melayu (Melayu Tua).
Diagram: Suku-suku Bangsa Awal di Indonesia.{{11}}
Di Nusantara terdapat sedikitnya 50 populasi etnik dengan karakteristik budaya dan bahasa tersendiri. Sebagian besar dari populasi itu, yakni yang berciri fisik Mongoloid, memunyai bahasa yang tergolong dalam satu filum (keluarga) bahasa yakni bahasa-bahasa Austronesia, yang menunjukkan mereka berasal dari satu nenek moyang yang sama. Sedangkan di Indonesia bagian timur dan Irian (kepulauan Melanesia) terdapat satu populasi dengan bahasa-bahasa yang tergolong dalam berbagai bahasa Papua Melanosoid.
Pada masa kini, kenyataannya ciri fisik dan bahasa yang digunakan orang-orang Suku Sasak lebih mencerminkan keturunan Austronesia. Oleh sebab itu, sebagian ahli berpendapat bahwa Pulau Lombok tidak pernah dilewati oleh arus migrasi pada masa Pleistocene, ketika terjadinya migrasi Ras Negroid tersebut.
Namun penemuan dan penggalian arkeologi belakangan ini memperlihatkan fakta sebaliknya bawha Pulau Lombok merupakan bagian tidak terpisahkan dari jalur migrasi manusia dan hewan serta penyebaran budaya yang berasal dari Pleistocene di Indonesia.
Penemuan-penemuan terbaru pada tahun 2000 hingga 2004 menunjukkan kehidupan manusia purba di Pulau Lombok berlangsung sejak masa Zaman Es. Misalnya pada tanggal 24 Februari 2000 silam, para arkeolog bidang prasejarah dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional menemukan artefak paleolitik (berumur sekitar 900.000 tahun lalu) di Dusun Sengkere, Desa Pelambek, Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah. Temuan itu berupa subfosil tulang kering (tibia) kerbau purba. Selain itu juga, ditemukan peralatan dari batu, di antaranya serut tipe tapal kuda yang dinilai sebagai masterpiece, karena tidak di semua situs di Indonesia ditemukan alat sejenis. Selain benda-benda di atas, di lokasi tersebut ditemukan pula kapak berimbas, kapak penetak, peralatan serpih, dan lainnya dengan bahan batuan basal dan marmer yang diduga dari masa Pleistocene atas dan tengah (antara 400.000-100.000 tahun lampau).{{12}}
Sepanjang 14-28 Oktober 2003, Tim Peneliti Pusat Arkeologi Nasional juga menemukan alat paleolitik di Desa Batukliang dan Desa Buktik, Kabupaten Lombok Tengah, serta di Desa Sembalun, Kabupaten Lombok Utara.{{13}}
Pada Januari 2004, empat potong kerangka manusia purba ditemukan oleh seorang perajin batu bata di Dusun Lendang Berora, Desa Sigar Penjalin, Pemenang, Lombok Barat. Kerangka itu memiliki ciri, berbadan lebih tinggi dari manusia biasa dan bertaring. Selain kerangka, juga ditemukan enam butir emas berbentuk pelor roda sepeda.{{14}}
Pusat Penelitian Arkeologi Nasional memperkirakan benda-benda purbakala yang ditemukan di situs Lendang Berora itu merupakan artefak paling tua, baik yang terbuat dari emas, besi dan benda-benda gerabah, seperti periuk dan kendi yang dikenal sejak zaman Megalitikum (kebudayaan batu besar).
Sebelumnya, pada tahun 1976, dari hasil ekskavasi di Gunung Piring, Desa Teruwai, Lombok Tengah, ditemukan sejumlah peralatan untuk prosesi pemakaman dan tulang paha yang hidup pada abad ke-4 Masehi (301-400 M). Alat itu antara lain sebuah kendi diletakkan pada bagian kaki jasad manusia yang dikuburkan itu.{{15}} Tahun 1996, tim arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional kembali menemukan beberapa benda zaman baheula lainnya di Gumi Sasak (Pulau Lombok), yakni artefak dari zaman Megalitikum berupa topeng pipih yang terbuat dari lempengan emas 18 karat berukuran 8 x 12 sentimeter dan puluhan manik-manik di Dusun Lendang Berora, Desa Sigar Penjalin, Pemenang, Kabupaten Lombok Barat.{{16}}
Topeng emas berbentuk wajah manusia lengkap dengan mata, hidung, dan mulut itu diduga berfungsi sebagai penutup wajah mayat dalam upacara penguburan. Sedangkan manik-manik emas berfungsi sebagai perhiasan. Selain topeng emas, pada Juli 1996 juga ditemukan mata tombak terbuat dari besi, periuk tanah liat yang teknik pembuatannya masih sederhana, serta keris, tetapi semuanya sudah rusak akibat berkarat.{{17}}
KESIMPULAN
Penghunian Gumi Sasak (Pulau Lombok) berdasarkan hasil penenlitian arkeologis telah dimulai sejak zaman Pleistocene atas dan tengah (antara 400.000-100.000 tahun lampau), dengan bukti adanya benda purbakala paleolitik di Dusun Sengkere, Desa Pelambek, Praya Barat, Lombok Tengah yang merupakan hasil budaya manusia purba. Artinya, mereka itulah nenek moyang orang Sasak yang tertua. Namun secara meyakinkan dapat dikatakan bahwa manusia Sasak purba tersebut telah musnah dan/atau sisanya pada akhirnya membaur dengan saudara mudanya dari Ras Melanosoid yang datang kemudian, yakni Proto dan Deutro Melayu.
Dalam perkembangannya, kedua populasi manusia tersebut (Proto dan Deutro Melayu) kemungkinan besar saling berinteraksi, baik langsung maupun tidak langsung, dengan intensitas yang relatif cukup tinggi. Pernyataan ini didukung pula oleh pola kehidupan yang hampir sama, sebagaimana telah dikupas di atas, yakni pola kehidupan di pedalaman dengan berburu dan mengumpulkan bahan makanan langsung dari lingkungan sekitar tempat tinggal mereka yang umumnya masih mendiami gua-gua (Proto Melayu).
Setelah pola kehidupan bercocok tanam mulai dikenal oleh beberapa kelompok, (sementara yang lain masih mempertahankan pola kehidupan lama), dalam perkembangan selanjutnya interaksi sosial budaya pun bisa terjadi pula, sehingga hubungan komunikasi masih tetap berlangsung walaupun dengan intensitas yang mungkin agak menurun. Hubungan komunikasi tersebut mengakibatkan terjadinya percampuran morfologis maupun budaya, melalui perkawinan, perdagangan atau lainnya, yang sekaligus sebagai penyebab hilangnya ciri Negroid dari penduduk Pulau Lombok hingga saat ini. Nah, hal ini terus berlangsung sampai masuknya budaya Hindustan yang dibawa oleh para misionaris Hinduisme dan Budhisme ke Gumi Sasak, yang mencapai puncaknya dengan berdirinya kerajaan-kerajaan yang bercorak kedua sistem kepercayaan tersebut pada awal-awal masehi, seperti Kerajaan Desa Laeq, Kerajaan Pamatan, ataupun Kerajaan Suwung.
[[01]] Dwi Hartini, Masyarakat Prasejarah Indonesia, UMY, hlm. 25. [[01]]
[[02]] Bernard Harrison, Continental Drift, Super Volcanos, Astroids…. [[02]]
[[03]] Dwi Hartini, hlm. 26. [[03]]
[[04]] Ibid… [[04]]
[[05]] Bernard Harrison, Loc. Cit… [[05]]
[[06]] Dwi Hartini, Loc. Cit… [[06]]
[[07]] Mikhail Coomans, Manusia Daya…, (Jakarta: Gramedia, 1987), hlm. 3. [[07]]
[[08]] Dwi Hartini, hlm. 27. [[08]]
[[09]] Mikhail Coomans, hlm. 4. [[09]]
[[10]] Dwi Hartini, hlm. 28. [[10]]
[[11]] Ibid… [[11]]
[[12]] Kompas, “Artefak Paleolitik Ditemukan di Lombok“, 26 Februari 2000. [[12]]
[[13]] Gatra, Kerangka Manusia Purba Ditemukan di Lombok. [[13]]
[[14]] Ibid… [[14]]
[[15]] Kompas, “Koleksi Museum NTB: Saksi Bisu Gumi Sasak“, 25 September 2003. [[15]]
[[16]] Gatra, Loc. Cit… [[16]]
[[17]] Ibid… [[17]]



@imcw : OSU, Wah gak nyangka pak dokter sin ...BACALAH SELENGKAPNYA
@Dion - Makasih bos buat infonya. hasilnya kita t ...BACALAH SELENGKAPNYA
@Ijét de Rasbani -Kanté, iye kenante sino :D. Bel ...BACALAH SELENGKAPNYA