Mamik Selamet: Membelah Bukit Untuk Saluran Air

Desa ijobalit, kecamatan Labuhan Haji, tujuh kilometer ke arah timur kota Selong, Lombok Timur, terkenal sebagai daerah yang kering, gersang dan daerah penghasil Batu Apung. Siapa sangka, di balik alamnya yang tidak bersahabat, terdapat seorang tokoh yang menjadi teladan tidak hanya bagi masyarakat di desanya, namun juga bagi masyarakat desa atau daerah lain dalam usaha membangun dan memajukan desanya. Orang itu adalah Lalu Selamet Suriawan Sahak atau sering disebut Mamik Selamet.

Yes, beliau menjadi teladan bukan karena status politik atau hartanya, namun karena tiada berputus asa dalam usaha membelah bukit menembus kabut demi membangun saluran irigasi ke desanya yang kering dan gersang.

Bagi Mamik Selamet, Ijobalit seperti sebuah takdir. Sewaktu kecil sekitar paruh kedua1960-an, ia kerap diajak sang ayah, lalu sahak menginap di Ijobalit Selamet ingat betul, ayahnya pernah berpesan dalam bahasa sasak, “lamun endeq ku beu naiking eiq ine, be ente nerusange leun” (jika saya tidak barhasil mengalirkan air, kamu yang mesti mengalikarnya nanti).

Selamet membelah bukit, berburu air dimulai pada 1982 dengan panjang belahan 2 KM, selepas ia menempuh pendidikan sarjana muda arsitektur di Akademi Arsitektur YKPN Yogyakarta. Selamet muda tidak berminat berkerja di tempat lain tetapi membulatkan tekadnya membangun ijobalit. Hasilnya bendungan kokok perako dengan tinggi 9 meter dan lebar 48 meter terselesaikan pada tahun 1999. Tidak kepalang tanggung itu dilakukan hampir selama 20 tahun.

Dalam kesendiriannya membelah bukit sepanjang 2 KM, ia sering dikatakan orang gila oleh masyarakat karena mereka tidak percaya air tidak bisa mengalir ke Ijobalit. Dengan semangat pantang menyerah dan kerja kerasnya bisa merubah pandangan masyarakat tadi, pelan tapi pasti masyarakat menjadi simpati dan jatuih hati. Mereka bahu membahu, bergotong royong mendukung kerja Selamet. Orang-orang desa yang lugu dan hidup pas-pasan itu, mulai percaya air biasa mengalir ke desa mereka dari balik bukit yang menghadang. Sekarang keringat dan peluh mereka terbayar lunas. Sekurangnya 700 hektar sawah,termasuk bekas galian batu apung yang sebelumnya hanya bisa di tanami palawija dapat terairi.Selamet sendiri tidak lantas besar kepala. Berkali-kali ia katakan apa yang dikerjakannya adalah buah dari gotong royong dan kebersamaan.

“saya tidak membangun masyarakat tetapi saya membangun bersama-sama masyarakat”, tutur beliau. Dukungan terus mengalir, Emil Salim, Saleh Afif, Rahmat Witoelar, Guruh Soekarno Putra, dan benerapa pejabat kedutaan dan lembaga asing di Jakarta, pernah berdatangan melihat buah kerja bapak tiga orang anak ini. Dari pemerintah jepang saja, Selamet pernah mendapatkan kucuran dana hingga milyaran besarnya. Bagi Selamet itu merupakan karunia yang kuasa.

Kerja besar selamet belum usai lagi. Sejak beberapa tahun berselang, ia kemudian merintis taman wisata di areal seluas 20 hektar dengan fasilitas restoran terapung, taman botani, kolam renang standar internasional, serta klinik kesehatan. Sekarang jika teman-teman sempat bertandang ke Taman Wisata Lembah Hijau Ijobalit, jejak kerja keras Selamet sudah terlihat. Kehadiran Taman Wisata Lembah Hijau sedikit banyak merubah perekonomian masyarakat Ijobalit.

Mamiq Selamet memang bukan mercu suar yang menerangi lautan luas, tetapi ia hanya “petromaks” yang berusaha menjadi suluh di lingkungan Ijobalit yang kecil. Namun tidak ada yang meragukan sebagai “petromaks” Selamet tetapi menjadi inspirasi yang benderang. Dari ijobalit kita bisa belajar bagaimana pembangun seharusnya memposisikan rakyat, tidak sebagai beban apalagi tumbal pembangunan melainkan sebagai pelaku yang dihargai potensi dirinya.

Di bawah ini merupakan gambar suasana Lembah Ijobalit hasil dari kerja keras Mamiq Slamet.

Lembah Hijau Balit

Lembah Hijau Balit

Lembah Hijau Balit

Sumber:

01. http://ijobalitmakmur.blogspot.com/
02. http://adijurnal.blogspot.com/

comments (2)

Track comments via RSS 2.0 feed. Feel free to post the comment, or trackback from your web site.

  1. Dec 10, 2009 | Yoni

    Beliau ini memang pantas dijadikan sbg teladan, penuh dengan dedikasi. Di daerah saya di Padang, Sumatera Barat, ada juga yg seperti Pak Selamet yg mengaduk-aduk batu cadas demi untuk warga di desannya.

  2. Dec 13, 2009 | Rifki

    Anda benar kawan! Dan beliau-beliau itulah yang disebut sang pahlawan dalam arti yang “sebenar-benarnya”. Welcome, kawan!

Leave a Comment

Respon Terkini

  1. Feb 21, 2010 by Rifki

    @imcw : OSU, Wah gak nyangka pak dokter sin ...BACALAH SELENGKAPNYA

  2. Feb 21, 2010 by Rifki

    @Dion - Makasih bos buat infonya. hasilnya kita t ...BACALAH SELENGKAPNYA

  3. Feb 21, 2010 by Rifki

    @Ijét de Rasbani -Kanté, iye kenante sino :D. Bel ...BACALAH SELENGKAPNYA